Syabab

FUTUR ? ENGGAKLAH !

Rasa jenuh dan bosan pada setiap amalan merupakan sebuah naluri yang kerap menghampiri setiap orang.

Rasa jenuh dan bosan pada setiap amalan merupakan sebuah naluri yang kerap menghampiri setiap orang. Terlebih di tengah pandemik yang menimpa negeri ini mengharuskan adanya physical distancing. Anjuran pemerintah untuk belajar di rumah, bekerja dari rumah, serta ibadah di rumah, ini semua sangat rentan memicu munculnya rasa bosan dan jenuh.

Maka syariat yang sempurna ini, telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatu yang bermanfaat untuk mereka, juga mengajarkan sesuatu yang akan menjadi baik untuknya. Yaitu, sebuah solusi di dalam menghadapi rasa bosan yang menimpanya. Hal ini sebagaimana dalam sabdanya,

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ ) . رواه ابن حبان في “صحيحه” (1/187) ، وصححه الألباني في

“(صحيح الترغيب (٥٦”

Dari Abdullah bin Amer semoga Allah meridai keduanya, beliau berkata, Rasulullah salalahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya pada setiap amalan ada masa semangat. Pada masa semangat tersebut ada masa bosan (futur). Maka, barangsiapa yang (melampiaskan rasa bosannya) kepada sunnahku, sungguh dia telah selamat. Namun, barangsiapa yang memalingkannya kepada selain sunnah, sungguh dia telah binasa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya jilid pertama halaman 187. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih at Targhib no 56 .

Hadits di atas mengajarkan kepada kita tentang bagaiamana cara menyikapi rasa bosan yang kerap menghampiri. Yaitu, dengan kita memalingkan rasa bosan tersebut kepada perkara yang Allah ridhai.

Seperti, seorang jenuh dari amalan sunnah, maka dia bisa berganti kepada amalan sunnah yang lain. Atau, bisa juga dipalingkan kepada perkara mubah selama tidak sampai melalaikan.

Sebaliknya, apabila seorang merasa bosan dari amalan mubah, dari pekerjaan maisyah misalnya. Maka, dia bisa memalingkannya kepada amalan sunnah, atau dipalingkan kepada amalan mubah yang tidak sampai melalaikan.

Maka ketika seorang telah hilang rasa jenuhnya dia bisa kembali beraktifitas normal seperti biasanya.

Pada hadits di atas juga terdapat larangan keras untuk memalingkan rasa bosan kepada sesuatu yang akan melalaikan dari zikrullah, atau bahkan perkara haram.

Sadarilah, bahwa kemaksiatan tidak akan bisa membuat hati tenang, bahkan yang ada akan membuat hati semakin gundah gulana. Sehingga bukannya semangat untuk kembali beramal, yang ada hanyalah semakin berat dan akhirnya akan mundur dari kancah perjuangan.

✍🏻 Ditulis oleh: Abu Muhammad Mukhlis semoga Allah menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.