Fiqih Puasa

PUASA TAPI TAK BERPAHALA, TAHU KENAPA?

Bulan puasa tiba. Masyarakat begitu antusias dalam menyambutnya. Hati terasa begitu riang gembira. Namun, beberapa orang masih menyangka bahwa puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga saja. Benarkah demikian?

Hal terpenting yang patut dipahami adalah, puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Namun lebih dari itu, ia harus menahan diri dari semua yang Allah haramkan.

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ )) رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meniggalkan makan dan minum.”(HR.Al-Bukhari)

Sehingga, ia harus mempuasakan telinganya dari pendengaran yang haram, seperti obrolan ghibah, adu domba, musik, ataupun nyanyian. Sebenarnya, itu semua memang diharamkan sepanjang tahun. Namun, pada saat berpuasa, tingkat keharamannya akan lebih dahsyat. Karena, hal itu akan sangat berpengaruh dalam merusak kualitas puasanya.

Begitupun dengan lisan yang ia punya, ia harus mempuasakannya dari beragam obrolan yang mengandung dosa. Pun penglihatan, ia harus ‘memejamkannya’ dari pandangan haram.

Terkadang, ada orang yang berpuasa, tetapi ia hanya mendapatkan derita lapar, dahaga, dan lelah tanpa pahala. Hal itu dapat terjadi karena ia tidak mampu mempuasakan diri dari pendengaran, ucapan, dan penglihatan yang haram.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع . ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan (pahala) apapun kecuali (derita) kelaparan. Betapa banyak pula orang menegakkan shalat malam, tetapi ia tidak dapat apa-apa kecuali hanya begadang.” (HR.An-Nasai 3249, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib 1083)

Maka sungguh, sejatinya puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Namun, dia juga harus berpuasa dari semua hal yang Allah haramkan atasnya. Tanpa hal itu, bisa saja puasanya tidak berpahala. Naudzubillah.

Disusun oleh: Syababsalafy, semoga Allah menjaganya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.