Fatwa Fiqih

FATWA-FATWA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT (5)

Soal ke 5 :
Kebanyakan manusia shalat mengenakan pakaian yang tipis, hampir terlihat kulitnya (transparan) dan mereka mengenakan sirwal pendek di balik baju tersebut yang celana tersebut tidak melebihi pertengahan paha (di dalamnya mengenakan celana yang setengah paha) sehingga terlihat celana tersebut dari balik pakaianya. Maka bagaimana hukum shalat mereka yang seperti itu ?

Jawab :

Hukum shalat mereka seperti itu, seperti hukum orang yang shalat tanpa memakai pakaian, kecuali dengan celana yang pendek saja. Dikarenakan pakaian yang tipis yang dengannya akan terlihat kulitnya (transparan), hal itu tidak teranggap sebagai penutup aurat, sehingga keberadaannya dianggap tidak ada (dia mengenakan tetapi teranggap tidak mengenakan pakaian). Oleh sebab itu, shalatnya dianggap tidak sah menurut salah satu pendapat yang paling shahih dari dua pendapat yang ada di kalangan para ulama dan hal ini merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad rahimahullah ta’ala, yaitu wajib bagi orang yang shalat dari kalangan laki-laki untuk menutupi apa yang ada di antara pusarnya dan lututnya, ini semua menunjukkan paling minimalnya yang harus dia tutupi. Dan dianggap minimalnya dia mempraktekan firman Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

{يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ}

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)

Sehingga yang wajib atas mereka untuk melakukan salah satu dari 2 hal, yaitu : hendaknya mereka memakai celana yang menutupi di antara pusar dan lututnya, atau mereka mengenakan di atas atau di luar celana yang pendek ini baju yang tebal sehingga tidak tampak kulitnya (tidak transparan).

Dan perbuatan yang disebutkan dalam pertanyaan tadi adalah perbuatan yang salah dan berbahaya, maka wajib atas mereka untuk bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari perbuatan itu, serta bersemangat untuk menyempurnakan penutup aurat yang wajib bagi mereka untuk menutupinya di shalat-shalat mereka.

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk kita dan saudara kita kaum muslimin agar mendapatkan hidayah dan taufik untuk menjalankan apa yang Allah cintai dan ridhai karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha Dermawan dan Maha Mulia.

(فتاوى أركان الإسلام س :٢١٠)

Alih bahasa: Al-Ustadz Abu ‘Ubaidah Abdurrahman حفظه الله
19 Shafar 1442 H bertepatan dengan 07 Oktober 2020 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *