Fatwa Fiqih

RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR PENYEMBELIHAN : BAGIAN KEDUA

Pertemuan Kedua

2. HUKUM SYARIAT KURBAN

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata, “Udhiyah (أضْحية) atau hewan sembelihan kurban merupakan bagian dari syiar-syiar Islam”. Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah ‘azza wa jalla, maka itu semua muncul dikarenakan ketakwaan yang ada dalam hatinya (Al-Hajj: 32). Berkurban disyariatkan berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dari hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga ijma’ kaum muslimin.

Pensyariatan berkurban berdasarkan nash Al-Qur’an:

Nash Al-Qur’an yang pertama yaitu Surat Al-Kautsar ayat 2. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah engkau dan menyembelihlah semata untuk Rabb-mu.”

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk shalat dan menyembelih. Kendatipun sebagian para ulama diantaranya Imam Qatadah, Atha, Ikrimah dan lainnya menafsirkan bahwa shalat di sini adalah shalat ‘id, dan menyembelih di sini yaitu menyembelih hewan kurban. Maka itu semua, baik itu shalat ‘id demikian pula penyembelihan kurban dan shalat-shalat yang lainnya, disebutkan semata karena Allah subhanahu wa ta’ala, dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Disebutkan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah ta’ala, dalam tafsir ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala khususkan dalam ayat ini dua ibadah yang mulia yaitu shalat dan menyembelih, di karenakan shalat terkandung padanya ketundukan hati dan anggota badan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla, demikian pula dalam menyembelih Adalah wujud mendekatkan diri seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari apa yang dia cintai berupa harta yang dia miliki, ia keluarkan dalam bentuk hewan sembelihan kurban.

Nash Al-Qur’an yang kedua yang menujukkan pensyariatan udhiyah yaitu Surat Al-An’am ayat 162-163. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ(162)لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ (163

“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi Allah subhanahu wa ta’ala, maka dengan itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang pertama berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Bahwa makna ‘nusuk’ (نسك) pada ayat ini, kata Syaikh rahimahullah ta’ala adalah penyembelihan, baik itu penyembelihan hewan kurban (yang disebut udhiyah), hadaya atau aqiqah, itu semua semata untuk Allah subhanahu wa ta’ala bukan untuk yang selain-Nya. Sehingga penafsiran ‘an-nusuk’ yaitu adz-dzabhu, kata Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah sebagaimana ditafsirkan oleh Sa’id bin Jubair. Dan ada pula yang menafsirkan ‘an-nusuk’ adalah seluruh rangkaian-rangkaian ibadah, dan termasuk di antaranya sekian rangkaian ibadah yaitu penyembelihan, dengan demikian pengertian ini lebih mencakup.

Nash Al-Qur’an yang ketiga yaitu Surat Al-Hajj ayat 34. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُواۗ

“Dan bagi setiap umat telah Kami jadikan tempat penyembelihannya untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala terhadap apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala rizkikan pada mereka berupa hewan ternak, sehingga sesembahan kalian adalah sesembahan yang satu, hanya kepada-Nya kalian berserah diri.”

Adapun dalam hadits, Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa hadits.

Hadits yang pertama yaitu dalam Shahih Bukhari dan Muslim :

و في صحيح البخاري و مسلم عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ  ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih binatang kurban yaitu dengan dua domba (dua kambing besar) yang keduanya berwarna putih bercampur dengan warna hitam langsung dengan kedua tangannya. Rasulullah membaca tasmiyyah (bimillah) dan bertakbir, serta meletakkan kakinya di atas punuk atau tengkuk kambing tersebut.”

Makna amlah (أملح) adalah warna bulu kambing tersebut putih bercampur hitam dan putihnya lebih banyak ketimbang hitamnya. Warna hitamnya di bagian-bagian tertentu, bagian mata, lutut, perutnya sebagaimana akan datang pada hadits berikutnya. Sedangkan berwarna putih, warnanya serupa dengan warna putih garam.

Kemudian yang afdhal dalam menyembelih hewan kurban adalah menyembelih dengan tangan sendiri/ tidak diwakilkan kepada orang lain. Akan tetapi, jika seseorang memiliki udzur atau ada perkara yang lain sehingga tidak bisa menyembelih hewan kurbannya secara langsung, maka boleh mewakilkan kepada orang lain. Berdasarkan tuntunan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan hal ini termasuk syarat dari penyembelihan yakni membaca tasmiyyah (bismillah) ketika menyembelih. Adapun takbir hukumnya sunnah yaitu setelah seseorang membaca bismillah dan doa yang lain yang akan dibawakan oleh Syaikh dalam pasal berikutnya nanti.

Kemudian tata cara yang disebutkan di sini dari apa yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yaitu beliau meletakkan kakinya di pinggir/ sisi punuk atau tengkuk dari kambing tersebut ketika seseorang membaringkan kambingnya, kemudian beliau menginjak bagian pinggir/ sisi punuknya agar kambing tersebut tidak meronta dan dapat tenang berbaring. Sehingga dari sini para ulama menganggap bahwa yang sunnah dalam menyembelih kambing dan sapi selain unta yaitu dengan dibaringkan.  والله أعلم

Selengkapnya dapat disimak pada audio kajian berikut :

Pemateri : Al-Ustadz Abu Ubaidah Abdurrahman hafizhahullah (Mudir Ma’had Darul Hadits Annajiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.