Fatwa Fiqih

RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR PENYEMBELIHAN : BAGIAN PERTAMA

MUKADIMAH (PEMBUKAAN)

Materi ini diambil dari kitab تلخيص أحكام الاضْحية و الذكاة (Talkhish Kitab Ahkam Al-Udhiyah wa Adz-Dzakah) yang ditulis oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Sebagai bentuk perwujudan dari ucapan Al-Imam Bukhari rahimahullah yaitu, “بَابُ الْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ”, bab untuk kita berilmu terlebih dahulu sebelum kita berucap dan berbuat. Dikarenakan di hari-hari ke depan semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan dan memberikan kesempatan serta umur kepada kita sehingga dipertemukan dengan bulan yang mulia, yaitu Bulan Dzulhijjah. Pada bulan tersebut disyariatkan adanya penyembelihan hewan kurban yang merupakan amalan ibadah yang mulia di sisi Allah subhanahu wa taala. Sampai-sampai para ulama menyebutkan keutamaannya lebih besar dari berinfak senilai hewan yang kita sembelih. Seandainya seseorang diberikan pilihan antara menyembelih satu kambing dengan ia berinfak tiga juta atau lebih, maka tetap lebih mulia dia menyembelih satu kambing ketimbang berinfak yang diberikan dengan seharga hewan tersebut. Maka hal ini menunjukkan bahwa amalan yang dilakukan di bulan itu sebagai amalan yang mulia, dan lebih jelas lagi yang menunjukkan keutamaan yang ada dibulan Dzulhijjah, ialah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :

“ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام”يعني: أيام العشر،قالوا:يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال :”ولا الجهاد في سبيل الله،إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيئ “

“Tiada hari-hari yang amalan shalih ketika itu lebih Allah cintai dibandingkan dengan hari-hari ini, yaitu 10 hari pertama awal Dzulhijjah, para sahabat mereka bertanya: Wahai Rasulullah: tidak pula berjihad fisabilillah? Beliau menjawab: tidak pula jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak ada sesuatupun yg kembali darinya.” (H.R. Bukhari no. 969 dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini menunjukkan, bahwa amalan shalih apa saja yang dilakukan seseorang di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sangat Allah cintai dari berjihad fisabilillah, kecuali kalau jihadnya sesuai dengan kriteria yang disebutkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut.

Dari sini hendaknya seorang muslim bersemangat untuk meraih keutamaan dan kesempatan emas yang melimpah di bulan Dzulhijjah yang tentunya hal itu dengan ilmu dan takwa. Oleh karena itu, untuk menyongsong amalan yang mulia ini maka dibutuhkan padanya al-ilmu. Yaitu dengan kita berilmu terlebih dahulu untuk menyongsongnya, sehingga dengan ilmu itu kita berharap semoga amalan shalih serta penyembelihan hewan kurban kita dinilai sebagai amalan yang diterima di sisi Allah subhanahu wa taala.

Dalam ringkasan ini, tentunya Syaikh sebelumnya menulis suatu kitab tentang Ahkam Al-Udhiyah wa Adz-Dzakah secara panjang lebar, bahkan beliau sebutkan sampai 93 halaman. Dikarenakan disebutkan padanya terdapat perselisihan, adanya perbedaan pendapat dan adanya perkara-perkara yang mungkin dianggap sulit dalam pandangan kita, sehingga Syaikh berinisiatif untuk meringkas serta memberikan kemudahan kepada para pembacanya. Beliau meringkas dalam hal ini menjadi sepuluh pasal, yaitu:

  1. Pasal pertama, mengenai definisi udhiyah serta hukumnya.
  2. Pasal kedua, mengenai syarat-syarat hewan yang akan disembelih sebagai hewan kurban.
  3. Pasal ketiga mengenai perkara yang utama dari hewan kurban, baik itu ditinjau dari jenis atau sifatnya dan yang dibenci dari hewan kurban. Yakni: apa saja yang paling utama dari deretan hewan kurban ditinjau dari jenis dan sifatnya serta hewan kurban seperti apakah yang dibenci.
  4. Pasal keempat, mengenai bagi siapa sajakah teranggap sembelihan hewan kurban.
  5. Pasal kelima, mengenai perkara-perkara yang teranggap memperjelas tentang hewan kurban serta hukum-hukumnya.
  6. Pasal keenam mengenai apa saja yang dimakan dari daging hewan kurban serta yang dibagikan.
  7. Pasal ketujuh, mengenai perkara apa saja yang selayaknya dijauhi bagi orang yang hendak menyembelih hewan kurban.
  8. Pasal kedelapan mengenai penyembelihan dan syarat-syaratnya.
  9. Pasal kesembilan mengenai adab-adab dalam menyembelih.
  10. Dan yang terakhir, pasal kesepuluh mengenai perkara-perkara yang dibenci dalam penyembelihan.

PASAL PERTAMA

DEFINISI UDHIYAH DAN HUKUMNYA

  1. DEFINISI UDHIYAH

Kita masuk pada pasal yang pertama sebagai mukadimah di pertemuan perdana ini, yaitu tentang definisi udhiyah dan hukum-hukumnya. Patut kita ketahui bahwa penyembelihan atau dzabihah (ذبيحة) yang jamaknya dzabaih (ذبائح) itu ada beberapa macam. Kita ketahui ada yang disebut aqiqah atau disebut pula nasikah, yaitu kambing yang disembelih di hari ketujuh setelah kelahiran anak. Demikian pula ada yang disebut al-hadyu (الهدي) yang dijamakkan dengan hadaya (هدايا) yaitu hewan yang disembelih dari hewan ternak di hari Idul Adha oleh jamaah haji dalam rangkaian manasik hajinya. Dan ada pula yaitu dari apa yang kita bahas malam ini yang disebut dengan udhiyah (أضْحية) yaitu hewan kurban yang disembelih di hari-hari id oleh selain yg berhaji (akan datang pengertian lengkapnya). Para ahli bahasa menyebutkan dalam kata udhiyah ini ada beberapa bahasa. Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (7/128) cet. Darul hadits, beliau menukilkan dari Al-Jauhari rahimahullah, bahwasanya berkata Al-Ashmu’i rahimahullah beliau menyebutkan bahwa ada empat bahasa dalam hal ini:

  1. Yang pertama bisa disebut udhiyah (أضْحية) dengan mendhammahkan hamzah.
  2. Yang kedua dengan dikasrahkan hamzahnya yaitu idhiyah (إضْحية). Keduanya dijamakkan dalam bahasa Arab yaitu dengan kata Al-Adhahiyy (الاضاحي), baik itu dengan ditasydidkan huruf ya-nya atau tanpa ditasydid (Al-Adhahiy).
  3. Kemudian yang ketiga disebut dhahiyah (ضحية) yang dijamakkan dengan dhahaya (ضحايا). Sebagaimana datang dalam hadits yang akan datang dalam kitab ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membagikan atau menyembelih hewan-hewan kurban yang disebut dhahaya.
  4. Dan yang keempat disebut dengan adhaatun (أضحاة) dengan tamarbuthah di ujungnya, dijamakkan dengan adhaa (أضحى) yang ma’ruf, sehingga dari penamaan yang keempat ini yaitu adhaatun atau adhaah yang jamaknya adhaa. Kata para ulama : dari yang keempat inilah maka dinamakanlah ‘Idul Adha dengan penamaan yang dinisbatkan kepada hewan kurban yang disembelih ketika itu. Dikatakan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah: dinisbatkan hari itu kepada penyembelihan hewan kurban yaitu Idul Adha dan dinamai dengannya karena penyembelihannya tersebut dilakukan di waktu dhuha yaitu ketika beranjak atau naiknya matahari di kala itu.

Kemudian definisi yang disebutkan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, udhiyah yaitu hewan yang disembelih dari jenis bahimat al-anam (بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ) di hari-hari id disebabkan adanya id dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla. Jadi, yang disembelih bukan sembarang hewan, tetapi harus sesuai dengan kriterianya yaitu bahimat al-anam yang disebutkan dalam surat Al-Hajj ayat 34, sehingga sesuatu atau hewan yang disembelih dan tidak termasuk dalam kategori bahimat al-anam, maka tidak dikatakan udhiyah. Di antara hewan yang termasuk bahimat al-anam yaitu unta, sapi (dan yang sejenisnya yaitu kerbau), kambing (dan yang sejenisnya yaitu dhan dan maz1). Jika seseorang menyembelih burung, kendatipun burung murai yang harganya sepuluh juta atau lebih, maka tidak dikatakan udhiyah. Atau mungkin seseorang menyembelih ayam yang paling mahal, itupun tidak termasuk udhiyah. Hal itu karena udhiyah yaitu dari jenis bahimat al-anam yang telah disebutkan, seperti unta, sapi, dan kambing.

Dan kapan disembelihnya ? Kata Syaikh, disembelihnya di hari-hari Idul Adha, yaitu di 10 Dzulhijjah, demikian pula pendapat ulama membolehkan di hari-hari tasyrik yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah dan ini pendapat yang kuat. Apabila disembelih di tanggal 9 Dzulhijjah atau sebelum tgl 10 Dzulhijjah atau di malam hari atau menjelang Subuh sebelum shalat Idul Adha, itu semua tidak dikatakan udhiyah, tetapi itu semua dikatakan sebagai daging biasa yang tidak ternilai kurban. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam katakan kepada sahabatnya, sesungguhnya kambing yang kamu sembelih kambing sembelihan biasa saja, bukan teranggap sebagai udhiyah. (H.R. Bukhari No. 955, Muslim No. 1961) dari Al-Bara’ ibnu ‘Azib radhiyallahu anhuma, karena disembelih tidak tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dari sini kita ketahui agar suatu amalan teranggap mencocoki sunnah Rasulullah, hendaklah amalan tersebut mencocoki secara jenisnya, yaitu bahimat al-anam kemudian mencocoki secara zaman (waktunya), yaitu di hari-hari yang teranggap sebagai hari penyembelihan hewan kurban, yatu tanggal 10 dan dibolehkan di hari-hari tasyrik 11, 12, 13 Dzulhijjah (lebih jelasnya akan di bahas di akhir pasal yang kedua, insyaAllah). Kemudian penyembelihan karena sebab Idul Adha, bukan karena sebab lain. Kemudian apa tujuannya ? Kata Syaikh yaitu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sembelihan itu dan bukan tujuannya untuk menjadi terkenal atau tujuan-tujuan tercela lainnya.

Mungkin itu apa yang bisa kita ambil pada pertemuan perdana ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan untuk mengkajinya dan senantiasa memberikan kesehatan. Tak luput, kita memohon semoga Allah segera mengangkat wabah yang melanda negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dan mengembalikan pada kondisi semula yang aman, tenteram, dan damai seperti semula.

Selengkapnya dapat disimak di audio rekaman kajian berikut :

Pemateri : Al-Ustadz Abu Ubaidah Abdurrahman hafizhahullah (Mudir Ma’had Darul Hadits Annajiyah)
Keterangan:
1Dha’n: jenis kambing yang cenderung berbulu lebat dan berekor panjang, ma’z: jenis kambing yang cenderung berbulu tipis dan berekor pendek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *