Fatwa Fiqih

RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR PENYEMBELIHAN : BAGIAN KETIGA

PERTEMUAN KETIGA

HUKUM SYARIAT KURBAN (LANJUTAN)

Dasar hadits kedua pensyariatan penyembelihan hewan kurban yaitu dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma.

وعن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما قال:”أَقَامَ النَّبِيُ ﷺ “بِالمَدِيْنَةِ عَشْر َسِنِيْنَ يُضَحِّي”

 (رَوَاهُ أحمد و التّرمذي وقال: حديث حسن)

Beliau mengatakan ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mukim di Madinah selama 10 tahun, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melakukan penyembelihan hewan kurban. (H.R. Ahmad: 2/28 dan Tirmidzi: 1507).

Ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah lepas untuk berkurban kala itu ketika bermukim di Madinah. Setiap tahunnya beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih hewan kurban.

وعن عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رضي الله عنه أن انَّبِيَّ ﷺ قَسَمَ بَيْنَ أصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذعة، فَقَالَ:” يَا رَسُوْلَ الله، صَارَتْ لِيْ جَذَ عةٌ”، فَقَالَ:”ضَح بها”

(رواه البخاري ومسلم)

Hadits yang ketiga yaitu dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ta’ala ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membagikan di antara sahabatnya hewan sembelihan kurban (dhahaya), ternyata Uqbah bin Amir mendapati “jadza’ah” (hewan kurban yang masih muda atau belum cukup umur). Beliau mengatakan pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, ternyata saya mendapatkan bagian hewan yang masih muda (belum cukup umur)”, maka Rasulullah berkata “Menyembelihlah kamu dengannya.” (H.R. Bukhari: 5547 dan Muslim: 1965). Maka di sini menunjukkan hewan yang belum cukup umur (jadza’ah) terkhusus domba dianggap sah.

وعن البراء بن عازب رضي الله عنه أَن النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَ أَصَابَ سُنَّةَ الْمُسلِمِيْنَ”

 (رواه البخاري و مسلم)

Hadits yang keempat yaitu dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ta’ala ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat ‘id dilakukan maka sungguh dianggap sempurna penyembelihannya (dianggap sah) dan teranggap sesuai dengan sunnah (kebiasaan) kaum muslimin.” (H.R. Bukhari: 5560 dan Muslim: 1961)

Asy-Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melakukan penyembelihan di hari-hari Idul Adha, demikian pula diikuti oleh para sahabatnya. Dan mengabarkan bahwasanya menyembelih hewan kurban tersebut adalah sunnah kaum muslimin (kebiasaan mereka) yang merupakan syiar Islam.”. Jadi, itulah empat hadits yang dibawakan Syaikh yang menunjukkan atas pensyariatan penyembelihan hewan kurban dan tentunya masih banyak hadits-hadits yang lain yang menunjukkan pensyariatan penyembelihan hewan kurban.

Dasar pensyariatan yang ketiga penyembelihan hewan kurban yaitu ijma’ kaum muslimin.

Asy-Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan oleh karenanya dari ini semua (dalil-dalil yang ada) sepakat kaum muslimin akan disyariatkannya menyembelih hewan kurban, sebagaimana dinukil kesepakatan tersebut bukan dari satu orang saja dari kalangan para ahlul ilmi. Hal tersebut menunjukkan banyak ulama yang menukilkan tentang ijma’ atas pensyariatan penyembelihan hewan kurban.

3. HUKUM MENYEMBELIH HEWAN KURBAN

Asy-Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para ulama bersilang pendapat setelah sebelumnya mereka sepakat atas disyariatkannya penyembelihan hewan kurban apakah menyembelih hewan kurban tersebut hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan) atau hukumnya wajib yaitu tidak boleh ditinggalkan.”. Maka dalam hal ini terbagi menjadi dua pendapat yang masyhur.

  1. Pendapat yang pertama, pendapatnya jumhur (kebanyakan) ulama bahwasanya menyembelih hewan kurban hukumnya sunnah muakkadah. Pendapat ini termasuk dari pendapat madzhab Imam Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Imam Malik, serta Imam Ahmad dalam pendapat yang masyhur dari keduanya.
  2. Pendapat yang kedua yaitu para ulama yang berpendapat menyembelih hewan kurban hukumnya wajib. Di atas pendapat ini yaitu madzab Imam Abu Hanifah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan Imam Malik.

Pendapat yang kedua yaitu wajibnya menyembelih hewan kurban dipilih oleh Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah seraya beliau mengatakan, “Pendapat wajib ini yaitu salah satu dari dua pendapat yang ada pada madzhab Imam Malik atau yang dzahir dari madzhabnya Imam Malik”. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Yang berpendapat sunnah muakkadah (jumhur ulama) yaitu berdasarkan nash-nash yang sudah kita bahas yang dimuat oleh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Itu semua menunjukkan sunnah yang ditekankan dikarenakan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melakukannya demikian pula diikuti oleh para sahabat.

Dalam hadits yang lain dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها أنِ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:” إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِيْ الحِجَّةِ، وَ أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَ أَظْفَارِهِ.”

(رواه مسلم)

“Apabila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih, maka hendaklah menahan diri untuk tidak memotong rambut dan kukunya“. (H.R. Muslim: 1977).

Dalam riwayat ini dikatakan dengan “Barangsiapa yang ingin menyembelih”, menunjukkan bahwa perkaranya adalah sunnah muakkadah saja karena bukan dengan lafadz perintah, melainkan dikaitkan dengan keinginan untuk menyembelih.

Adapun yang berpendapat wajib dari madzhab Imam Abu Hanifah yang masyhur, mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara mauquf yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (8256) dan yang lainnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

عنْ أبي هريرةَ رضي الله عنه قال: “قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا.”

(رواه أحمد)

“Barangsiapa yang ia memiliki kelapangan harta tetapi tidak menyembelih, maka tidak boleh untuk mendekati tempat shalat kami.”

Kendatipun hadits ini kata para ulama adalah hadits yang mauquf yang dinisbatkan pada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak sampai kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Jika kita cermati pada hadits ini menunjukkan seandainya wajib yaitu orang yang memiliki kelapangan rezeki, menunjukkan tidak diwajibkan bagi seluruh kalangan.

Dengan demikian pendapat yang paling kuat adalah pendapat dari jumhur ulama yaitu hukumnya sunnah muakkadah.

Berkata Asy-Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ta’ala menyembelih hewan kurban hal itu lebih utama dibandingkan sedekah seharga hewan kurban tersebut. Karena :

a. Menyembelih hewan kurban tersebut adalah amalan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

b. Menyembelih termasuk syiar-syiar Allah. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat ke-32, Allah Ta’ala berfirman :

 وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”

Maka kita lakukan penyembelihan hewan kurban ketika mampu. Seandainya manusia berpaling kepada sedekah tidak lagi menyembelih hewan kurban (tetapi diganti dengan sedekah seharga hewan kurban tersebut), niscaya syiar Islam tersebut akan punah begitu saja.

Demikian pula jika sedekah senilai hewan kurban itu lebih utama dari menyembelih hewan kurban niscaya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan menjelaskan kepada umatnya, baik itu melalui ucapan atau perbuatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Niscaya kita akan dapati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan lebih baik sedekah atau beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan bersedekah. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyembunyikan kebaikan dari umatnya. Demikian pula seandainya sedekah senilai hewan kurban itu sebanding dengan menyembelih hewan kurban maka niscaya akan dijelaskan pula oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam karena sedekah lebih ringan daripada payahnya menyembelih. Kendatipun bersamaan dengan perkara yang menyulitkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tetap memilih menyembelih hewan kurban ketimbang sedekah yang lebih mudah.

Selengkapnya dapat disimak pada audio kajian berikut :

Pemateri : Al Ustadz Abu Ubaidah Abdurrahman Hafizhahullah (Mudir Ma’had Darul Hadits Annajiyah)

One Reply to “RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR PENYEMBELIHAN : BAGIAN KETIGA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *