Fatwa Fiqih

RINGKASAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR PENYEMBELIHAN : BAGIAN KEEMPAT

PERTEMUAN KEEMPAT

BERAPA LAMA WAKTU YANG DIPERKENANKAN SECARA SYARIAT UNTUK MENYIMPAN DAGING KURBAN.

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata, “Dahulu di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, manusia pernah dilanda kelaparan atau paceklik. Di awal perkara, Rasulullah mengatakan, “Barangsiapa yang dia menyembelih di antara kalian maka jangan sampai setelah tiga hari masih tersisa daging tersebut.”. Artinya untuk menghabiskannya selama tiga hari dari hewan sembelihannya. Tatkala di tahun berikutnya para sahabat bertanya pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah apakah kita lakukan seperti yang kita lakukan di tahun lalu?”. Rasulullah mengatakan, (menunjukkan syariat tersebut telah terhapus) “Makanlah oleh kalian dan berilah makan pada yang lain dan simpanlah oleh kalian dari hewan sembelihan kurban tersebut. Sungguh di tahun itu memang terjadi di tengah-tengah manusia kelaparan sehingga aku ingin agar daging sembelihan kurban tersebut dibagikan di tengah-tengah manusia agar dapat mengambil manfaat dari daging sembelihan kurban.” (H.R. Bukhari: 5569 dan Muslim: 1974, dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu).

Ini menunjukkan bahwasanya para sahabat semangat untuk mendapat bimbingan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam karena di kala itu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menghabiskan daging sembelihan kurban dalam waktu tiga hari. Dan di tahun-tahun berikutnya, Rasullah shalallahu ‘alaihi wasallam membimbingkan pada kita melalui para sahabatnya bolehnya untuk menyimpan daging kurban karena ada manfaat tatkala ada di antara manusia yang tertimpa kelaparan, sehingga manusia yang tertimpa kelaparan dapat mengambil manfaat dari daging kurban yang mereka simpan.

Di sini menunjukkan sempurnanya syariat Islam bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu memperhatikan kondisi hamba-Nya dan Allah subhanahu wata’ala Maha Tahu keberadaan hamba-Nya. Dari hadits tersebut, menunjukkan bahwa daging sembelihan kurban tersebut dimakan sebagian untuk kita dan sebagian disedekahkan atau diberikan kepada orang lain (sebagaimana pula akan disebutkan nanti dalam Surah Q.S. Al-Hajj: 28 dan 36).

HUKUM MENYEMBELIH HEWAN KURBAN DI LUAR DAERAH (TEMPAT LAIN)

Kemudian dari sini ada perkara yang berkaitan dengan  bagaimana hukum menyembelih di luar daerah (tempat lain) yang kita tidak bisa memakan sebagian dari daging sembelihan kurban tersebut. Sementara dalam syariat, Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hajj :

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ – ٢٨

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Kemudian dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman :

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ – ٣٦

“Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.

Allah Ta’ala dalam ayat yang mulia ini memerintahkan kita untuk memakan dari hewan sembelihan kurban tersebut. Demikian juga Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk memakan sebagian daging sembelihan kurban. Ini menjadi perselisihan di antara para ulama, sebagian ada yang membolehkan dari fatawa Syaikh Bin Baz dan sebagian ada pula yang melarangnya dari fatawa Asy-Syaikh Al-’Utsaimin.

KEUTAMAAN BERKURBAN BILA DI BANDINGKAN BERSEDEKAH SENILAI DENGAN HEWAN KURBAN

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menukilkan dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa menyembelih hewan kurban itu lebih utama dari pada sedekah senilai hewan kurban itu sendiri. Kalau seandainya seseorang bersedekah dari dam (denda) seseorang yang berhaji, sementara dia mutamati’ atau haji qiran yang tidak membawa hewan sembelihan kurban lantas ia terkena denda, tetapi dia beralih bersedekah dengan berkali lipat nilai uang maka hal itu tidak bisa menggantikan denda tersebut karena tetap harus dibayar dengan hewan sembelihan. Maka, demikian pula hewan sembelihan kurban, ketika seandainya seorang mengganti dengan berkali-kali lipat harga hewan tersebut maka tetap lebih utama menyembelih. Ini merupakan pendapat dari madzhab Imam Ahmad. Ucapan Imam Ibnul Qayyim tertuang dalam kitabnya yaitu Tuhfatul Wadud bi Ahkam Al-Maulud hal 112.

Selengkapnya dapat disimak pada audio kajian berikut :

Pemateri : Al-Ustadz Abu Ubaidah Abdurrahman Hafizhahullah (Mudir Ma’had Darul Hadits Annajiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.