Adab dan Akhlaq

MALAS IBADAH, TANDA ADA MASALAH

Dalam menjalankan aktivitas ada kalanya rasa jenuh itu menghampiri. Apapun kegiatan yang kita kerjakan pasti ada kata bosan jika di lakukan setiap hari, baik itu ibadah, pekerjaan atau bahkan permainan sekalipun. Tidak bisa kita pungkiri karena itu sifat yang manusiawi. Jika jenuh itu menimpa kegiatan kerja dan permainan mungkin kita bisa ‘meliburkannya’. 

Namun, bagaimana jika bosan ini menimpa aktivitas ibadah kita ? Padahal kita tahu, bahwa tidak ada kata ‘libur ibadah’ dalam kamus seorang muslim.

Jika faktor bosan itu datang dari luar, maka di antara cara mengatasinya adalah dengan menganeka – ragamkan kegiatan ibadah yang kita lakukan, dari yang wajib turun ke sunnah, mungkin capai membaca Al Qur’an bisa mendengarkan dan contoh – contoh lainnya sebagaimana yang Nabi ﷺ ajarkan. Akan tetapi lain urusan kalau masalahnya ternyata bukan faktor dari luar, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Ya, apalagi kalau bukan iman dalam hati.

Kita ketahui bersama bahwa iman itu terdiri dari tiga rukun. Ucapan lisan, perbuatan anggota badan dan kepercayaan dalam hati berupa keyakinan. Itulah iman. Dengan kata lain iman itu memiliki suatu yang terlihat atau nampak, dan memiliki sesuatu yang abstrak ( tidak dapat dilihat ). Maka segala macam ucapan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi mungkar dan lain-lain juga semua perbuatan amal ibadah yang kita kerjakan seperti shalat, bersedekah, puasa dan lainnya itu adalah bagian dari keimanan yang dhohir. Adapun keimanan yang batin itu membenarkan dengan hati, kemudian mencintai, berlanjut kita tunduk dan patuh pada segala perintah-Nya dengan semaksimal mungkin kita taati.

Dari sini wahai kaum muslimin, tidak akan bermanfaat amal ibadah secara dhohir jika hati kita kosong dari keimanan. Yakni kita akan merasa malas bahkan berat jika kita kurang yakin akan pahala dari suatu amalan. Dan sebaliknya, tidak cukup hanya keyakinan serta pengakuan ‘ingin pahala’ tanpa mau meraihnya dengan usaha. Dengan ini kita ketahui bahwa keimanan adalah motor ( penggerak ) dari segala amal ibadah dimana amal akan besar jika motor keimanan itu benar. Kita bisa menjalankan ibadah dengan semangat jika hati penuh yakin terhadap pahala yang akan di dapat. Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan :

فتخلف العمل ظاهرا مع عدم المانع دليل على فساد الباطن وخلوه من الإيمان

.”Maka ketertinggalan ( malas ) melaksanakan amalan yang dhohir padahal tidak ada penghalang baginya untuk mengerjakan, menjadi tanda bahwa ada kerusakan dan kekosongan batinnya dari iman”.

ونقصه دليل نقصه، وقوته دليل قوته

Dan berkurangnya amalan merupakan bukti berkurang keimanannya. Dan sebaliknya, kuatnya amalan merupakan bukti kuatnya keimanannya“.

فالإيمان قلب الإسلام ولبه، واليقين قلب الإيمان ولبه .

Iman adalah jantung dan inti keislaman, sedangkan yakin adalah jantung dan inti keimanan“.

Kemudian beliau mengakhiri ucapannya dengan berkata

وكل علم وعمل لا يزيد الإيمان واليقين قوة فمدخول، وكل إيمان لا يبعث على العمل فمدخول

Maka setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan iman & keyakinan itu adalah sesuatu yang cacat. Dan setiap iman yang tidak membuahkan amalan itu adalah sesuatu yang cacat“.

Maka mari kita pupuk pohon keimanan, sirami dengan keyakinan, dengan itu semoga dalam beramal kita akan merasa ringan dan buah pahala dapat kita rasakan.

Harapannya dengan ini kita tergugah, untuk kembali bangkit beribadah. Bangun dari rasa bosan dan jenuh, untuk mengumpulkan bekal perjalanan panjang yang akan kita tempuh.

Disarikan dari kitab Fawaidul Fawaid milik Ibnul Qoyyim rohimahulloh, hal : 245, cet : Ibnul Jauzi.
Disusun oleh Ibnu Mauluddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.